10 Prinsip Utama yang Mendasari Studi Geografi

Eksplorasi 10 konsep dasar geografi dari lokasi hingga keterkaitan ruang, sebagai fondasi memahami pola dan interaksi fenomena alam-sosial di bumi.
Anonim

Dalam mengkaji objek material, ilmu geografi memiliki sepuluh metode atau konsep dasar.

1. Konsep Lokasi

Konsep lokasi atau letak merupakan konsep utama yang sejak awal pertumbuhan geografi telah menjadi ciri khusus ilmu pengetahuan geografi. Konsep letak merupakan jawaban atas pertanyaan pertama dalam geografi, yaitu di mana?

a. Lokasi Absolut

Lokasi absolut menunjukkan letak yang tetap terhadap sistem grid (kisi-kisi) atau koordinat. Untuk menentukan lokasi absolut di muka bumi, digunakan sistem koordinat garis lintang dan bujur yang biasa disebut letak astronomis. Letak absolut bersifat tetap, tidak berubah, meskipun kondisi tempat yang bersangkutan terhadap sekitarnya berubah.

b. Lokasi Relatif

Lokasi relatif lebih penting artinya dan lebih banyak dikaji dalam geografi serta lazim disebut sebagai letak geografis. Artinya lokasi ini berubah-ubah kaitannya dengan keadaan sekitar.

2. Konsep Jarak

Jarak sebagai konsep geografi memiliki arti penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, ataupun kepentingan pertahanan. Jarak mempunyai faktor pembatas yang bersifat alami, meskipun arti pentingnya bersifat relatif sejalan dengan kemajuan kehidupan dan teknologi.

Jarak berkaitan erat dengan lokasi dan upaya pemenuhan kebutuhan atau keperluan pokok kehidupan, seperti air, tanah yang subur, dan pusat pelayanan. Jarak dapat dinyatakan dengan ukuran jarak lurus di udara yang mudah diukur dengan peta (dengan memperhatikan skala peta). Namun, dapat pula dinyatakan sebagai jarak tempuh, baik yang berkaitan dengan waktu perjalanan yang diperlukan maupun dengan satuan biaya angkutan.

Sejalan dengan kemajuan teknologi serta upaya efisiensi, jarak tempuh dan biaya angkutan antara dua tempat yang berjauhan akan berubah dari waktu ke waktu. Jarak yang semula ditempuh berhari-hari dengan berjalan kaki, dapat ditempuh dalam waktu beberapa jam dengan kendaraan bermotor atau kereta api, dan selanjutnya ditempuh dalam waktu beberapa menit dengan menggunakan kapal terbang.

3. Konsep Keterjangkauan

Keterjangkauan (accessibility) tidak selalu berkaitan dengan jarak, tetapi lebih berkaitan dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana angkutan dan komunikasi yang dapat dipakai.

Suatu tempat dapat dikatakan terasing atau terisolasi kalau tempat itu sukar dijangkau (dengan sarana komunikasi atau angkutan) dari tempat lain, meskipun tempat itu relatif tidak jauh dari tempat lain. Rintangan medan yang berupa rangkaian pegunungan tinggi, hutan lebat, rawa-rawa, atau gurun pasir yang luas merupakan penyebab suatu tempat kurang dapat dijangkau dari tempat lain.

Faktor sosial yang berupa bahasa, adat istiadat, serta sikap penduduk yang berlainan (mencurigai setiap orang asing sebagai musuh) dapat menjadi faktor penyebab kurang terjangkaunya suatu tempat.

Keterjangkauan umumnya berubah akibat perkembangan ekonomi dan teknologi. Sebaliknya, tempat yang keterjangkauannya sangat rendah sulit mencapai kemajuan dan mengembangkan perekonomiannya.

4. Konsep Pola

Pola berkaitan dengan susunan, bentuk, atau persebaran fenomena dalam ruang muka bumi, baik fenomena yang bersifat alami (aliran sungai, persebaran vegetasi, jenis tanah, dan curah hujan) maupun fenomena sosial budaya (pemukiman, persebaran penduduk, mata pencaharian, dan jenis rumah tinggal).

Geografi mempelajari pola-pola bentuk dan persebaran fenomena, memahami makna atau artinya, serta berupaya untuk memanfaatkan dan mengintervensi atau memodifikasi pola-pola tersebut untuk mendapatkan manfaat yang besar.

5. Konsep Morfologi

Morfologi menggambarkan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil pengangkatan atau penurunan wilayah (secara geologi) yang lazim disebut erosi dan sedimentasi, sehingga ada yang berbentuk pulau-pulau, daratan yang luas, pegunungan dengan lereng-lereng tererosi, lembah-lembah, dan daratan aluvialnya. Morfologi juga menyangkut bentuk lahan yang berkaitan dengan erosi dan pengendapan, penggunaan lahan, tebal tanah, ketersediaan air, serta vegetasi yang dominan.

Bentuk dataran atau plato (dengan kemiringan tidak lebih dari 5 derajat) merupakan perwujudan wilayah yang mudah digunakan sebagai daerah pemukiman dan usaha pertanian serta usaha-usaha perekonomian lainnya. Jika diperhatikan peta persebaran penduduk Asia, ternyata penduduk yang padat terpusat pada lembah-lembah sungai besar dan tanah-tanah yang subur. Sebaliknya, wilayah pegunungan lazimnya merupakan wilayah yang jarang penduduknya, bahkan tidak didiami manusia. Bentuk pulau dengan garis pantai yang panjang memberikan arti khusus mengingat nilai maritimitas yang tinggi.

6. Konsep Aglomerasi (Menggerombol)

Aglomerasi merupakan kecenderungan penyebaran yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit dan paling menguntungkan, baik mengingat kesejenisan maupun faktor-faktor umum yang paling menguntungkan.

Di kota, penduduk cenderung tinggal mengelompok pada tingkat yang sejenis sehingga timbul daerah pemukiman elit, daerah tempat tinggal para pedagang, daerah pemukiman atau kompleks perumnas yang kebanyakan berpenghuni para pegawai negeri, serta daerah pemukiman kumuh.

Di pedesaan yang masih agraris, penduduk cenderung menggerombol di tanah datar yang subur dan membentuk perkampungan atau pedesaan. Makin subur tanah dan luas dataran, makin besar desa dan jumlah penduduknya. Sebaliknya, makin terbatas tanah datar dan kurang subur, gerombolan bentuk desa makin kecil dan terpencar.

7. Konsep Kegunaan

Nilai kegunaan fenomena atau sumber-sumber di muka bumi ini bersifat relatif, tidak sama bagi setiap orang atau golongan penduduk. Daerah pantai berpasir yang landai dengan perairan yang jernih belum tentu memiliki kegunaan yang besar bagi penduduk setempat, terutama jika kehidupan penduduk tersebut berorientasi pada pemanfaatan sumber-sumber di daratan dan banyak jalan darat dapat ditempuh. Sebaliknya, bagi masyarakat kota yang hidupnya berkecukupan, daerah pantai bagi sebagian orang memiliki nilai tinggi, yaitu sebagai tempat rekreasi.

8. Konsep Interaksi dan Interdependensi

Interaksi merupakan peristiwa saling mempengaruhi objek atau tempat yang satu dan yang lainnya. Setiap tempat mengembangkan potensi sumber dan kebutuhan yang tidak selalu sama dengan apa yang ada di tempat lain. Oleh karena itu, senantiasa terjadi interaksi atau bahkan interdependensi antara yang satu dengan yang lainnya.

9. Konsep Diferensial Area

Di setiap tempat atau wilayah, terwujud hasil integrasi berbagai unsur atau fenomena lingkungan yang bersifat alam maupun kehidupan. Integrasi fenomena menjadikan suatu tempat atau wilayah berbeda satu sama lain. Unsur atau fenomena lingkungan bersifat dinamis. Sementara itu, keadaan berubah dan interaksi atau integrasi juga menghasilkan karakteristik yang berubah dari waktu ke waktu.

10. Konsep Keterkaitan Ruangan

Keterkaitan ruangan atau asosiasi keruangan menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan fenomena yang lain di suatu tempat atau ruangan, baik yang menyangkut fenomena alam dan tumbuhan, maupun sosial.

Posting Komentar

Mohon Tulis Komentar nya untuk perbaikan ke depan nya :) serta gunakan lah kata y positif dan membangun dan hindarilah penggunaan kata yang sara dan tidak relevan